Sebuah Refleksi Kritis atas Sindiran
Menarik ketika ada yang menyindir PMKRI Cabang Bogor “kurang kerjaan”, bahkan membandingkan kualitasnya dengan Ketua BEM UGM. Kritik tentu sah dalam ruang demokrasi. Namun sebelum menilai kualitas, mungkin kita perlu bertanya: apa sebenarnya ukuran kualitas itu? Apakah diukur dari sorotan media? Dari jumlah pengikut? Dari seberapa viral pernyataan dibuat? Atau dari keberanian berdiri ketika martabat seseorang sedang diserang? Atau karena mengkritik Pemerintah?
Tidak semua kerja harus berbentuk panggung besar atau retorika revolusioner. Ada kerja-kerja sunyi yang tidak trending, tetapi justru esensial: menjaga nama baik, merawat etika publik, dan memastikan bahwa tuduhan tidak berubah menjadi kebenaran hanya karena diulang-ulang tanpa diuji. Ketika seorang gembala dituduh secara amoral di ruang terbuka, lalu banyak pihak memilih diam, maka keberanian mengambil sikap bukanlah “kurang kerjaan”. Itu justru bentuk tanggung jawab moral.
Membandingkan dengan BEM UGM pun tidak relevan. Setiap organisasi memiliki konteks sejarah, medan perjuangan, dan mandat moral yang berbeda. Kualitas bukan soal siapa lebih besar, melainkan siapa konsisten terhadap nilai yang diyakininya. Integritas tidak selalu berisik. Sering kali ia justru tenang, tegas, dan tidak perlu membuktikan diri lewat sensasi.
Santo Agustinus pernah berkata, “The truth is like a lion; you don’t have to defend it. Let it loose; it will defend itself.” Namun dalam kenyataan sosial, kebenaran sering kali perlu disuarakan agar tidak tenggelam oleh narasi yang lebih keras. Santo Thomas Aquinas menegaskan kembali bahwa keadilan adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya termasuk hak atas nama baik dan kehormatan.
Dan Santo Fransiskus dari Assisi mengingatkan, “Preach the Gospel at all times. When necessary, use words.” Artinya, kesaksian iman tidak selalu tentang banyak bicara, tetapi tentang tindakan nyata. Ketika kehormatan diserang dan martabat dilukai, diam bukan selalu kebajikan. Ada saatnya tindakan menjadi bentuk pewartaan itu sendiri.
Jika membela kehormatan dianggap berlebihan, mungkin kita berbeda dalam memahami arti tanggung jawab. Jika somasi dianggap remeh, mungkin kita berbeda dalam memahami konsekuensi hukum dan moral dari sebuah tuduhan publik.
Sejarah selalu mencatat: lebih mudah menjadi komentator daripada pengambil sikap. Lebih mudah menyindir daripada berdiri. Namun kualitas tidak lahir dari sindiran, melainkan dari keberanian untuk bertindak ketika nilai yang diyakini sedang diuji.
PMKRI Bogor memilih untuk tidak membiarkan. Dan sering kali, justru sikap yang tidak populer itulah yang menunjukkan keberanian mengambil sikap.
Okto Nahak
Alumni PMKRI Cabang Bogor
