Uskup Ruteng: Kongres PMKRI Harus Melahirkan Pemimpin Bijaksana, Bukan Perpecahan
Ruteng, 19 Juli 2026 — Kongres Nasional XXIV dan MPA XXXIII PMKRI resmi dibuka melalui Perayaan Ekaristi di Gereja Katedral Ruteng. Misa syukur yang dipimpin Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, dihadiri peserta kongres dari 88 cabang PMKRI yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.
Dalam homilinya, Mgr. Siprianus menyampaikan beberapa pesan utama sebagai bekal bagi para kader PMKRI dalam menjalankan proses kongres maupun pengabdian kepada bangsa.
Pertama, Uskup menekankan pentingnya digitalisasi sebagai bagian dari tantangan zaman yang harus dijawab secara bijaksana oleh organisasi. Menurutnya, perkembangan teknologi perlu dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat pelayanan, kaderisasi, dan karya nyata bagi masyarakat.
Kedua, ia mengajak seluruh kader merenungkan apa yang dapat dilakukan PMKRI bagi Indonesia yang begitu luas dan beragam. Uskup mengutip perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi, yang mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar atau memiliki sumber daya yang melimpah. Sebaliknya, perubahan sejati dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan kesetiaan, ketekunan, dan semangat pelayanan.
Ketiga, Mgr. Siprianus mengisahkan tentang Armenia, negara kecil yang menjadikan catur sebagai salah satu bagian penting dalam pendidikan. Melalui analogi tersebut, ia mengingatkan bahwa setiap langkah membutuhkan pertimbangan yang matang. Kesalahan dalam mengambil keputusan dapat membawa konsekuensi yang besar.
Ia kemudian mengibaratkan Kongres Nasional XXIV dan MPA XXXIII sebagai sebuah papan catur yang besar. Dalam setiap pertandingan pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Namun, menurutnya, makna kongres tidak terletak pada siapa yang terpilih, melainkan pada kedewasaan seluruh kader dalam menerima hasil dengan lapang dada. Jangan sampai mereka yang tidak terpilih pulang dengan membawa sakit hati yang justru merusak persaudaraan.
Mengutip pesan Bapa Suci, Uskup kembali mengingatkan bahwa setelah perayaan Ekaristi akan berlangsung proses pemilihan. Karena itu, setiap peserta diharapkan mempertimbangkan pilihannya dengan hati nurani yang jernih serta mengutamakan kepentingan organisasi.
“Jadilah seperti gandum yang menghasilkan buah. Kita mungkin kecil seperti ragi dan biji sesawi, tetapi apabila bekerja dengan sungguh-sungguh dan setia, kita akan menghasilkan buah yang baik bagi Gereja, bangsa, dan masyarakat,” pesannya.
Homili tersebut ditutup dengan peneguhan semangat dasar PMKRI, Pro Ecclesia et Patria, sebagai panggilan untuk terus mengabdi kepada Gereja dan Tanah Air melalui kepemimpinan yang bijaksana, visioner, dan berlandaskan iman.
