Sambutan Hangat Keluarga Jehada Mengawali Perjalanan Peserta Kongres Nasional XXXIV dan MPA XXXIII
Rombongan peserta Kongres Nasional XXXIV dan Musyawarah Perwakilan Anggota (MPA) XXXIII tiba di Labuan Bajo setelah menempuh perjalanan panjang. Kota yang dikenal sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo itu menyuguhkan panorama alam yang memikat, sekaligus keramahan masyarakat yang menjadi kesan pertama bagi para peserta.
Dari Labuan Bajo, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Rumah Tino, tempat peserta akan tinggal selama mengikuti rangkaian kegiatan. Setibanya di lokasi, rombongan disambut hangat oleh keluarga Jehada. Opa Antonius Jehada, Wilhelmus Ampur, Karolina Jemina, Agustino Gegeolino Jehada, serta seluruh anggota keluarga menyambut para peserta dengan senyum dan sapaan penuh keakraban.
Suasana hangat itu seketika menghapus rasa lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Sambutan yang diberikan keluarga tuan rumah mencerminkan kuatnya nilai kekeluargaan yang masih dijaga masyarakat Manggarai.
“Kami sangat senang atas kedatangan adik-adik yang berkunjung ke rumah kami. Ini merupakan pengalaman pertama bagi kami menerima rombongan seperti ini. Kami sungguh bersyukur dan berharap tali persaudaraan ini tetap terjalin,” ujar Opa Antonius.
Senada dengan itu, Agustino Gegeolino Jehada selaku tuan rumah mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta. Ia berharap para peserta dapat merasa nyaman selama berada di Rumah Tino.
“Selamat datang di rumah kami. Inilah rumah sederhana kami. Semoga teman-teman dapat merasa betah selama berada di sini dan menganggap rumah ini sebagai rumah sendiri,” tutur Agustino.
Sementara itu, Ketua Presidium PMKRI Cabang Bogor, Issack Frigi de Quirino, menyampaikan apresiasi kepada keluarga Jehada yang telah menerima rombongan dengan penuh kehangatan. Ia juga mengingatkan seluruh peserta untuk menjaga sikap dan nama baik PMKRI Cabang Bogor selama tinggal bersama keluarga tuan rumah.
“Mari kita menjaga nama baik cabang, menghormati keluarga yang telah menerima kita dengan tulus, serta tidak melakukan hal-hal yang dapat merepotkan tuan rumah. Kehadiran kita harus menjadi sukacita bagi keluarga yang telah menyambut kita,” pesannya.
Suasana kekeluargaan semakin terasa ketika keluarga tuan rumah menyuguhkan roti, kopi hangat, dan tuak khas Manggarai sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu. Jamuan sederhana itu menjadi simbol keramahan masyarakat Manggarai yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan kebersamaan.
Kunjungan tersebut menjadi lebih dari sekadar persinggahan sebelum mengikuti Kongres Nasional XXXIV dan MPA XXXIII. Di Rumah Tino, para peserta belajar bahwa kehangatan sebuah keluarga mampu melampaui perbedaan daerah, budaya, dan latar belakang. Pengalaman itu menjadi kenangan berharga yang mengawali rangkaian kegiatan kongres dengan semangat persaudaraan.
