JEMBATAN YANG TAK PERNAH MENUJU RUMAH

0
WhatsApp-Image-2025-07-28-at-10.11.00_32f671e1

Kalau Bukan Aku Yang Kau Mau Kenapa, Kenapa Kau Ajak Aku Sampai Di Titik Ini

Aku menatap ke belakang dan bertanya pada diriku sendiri: mengapa aku begitu mudah percaya? Apa yang membuatku begitu yakin bahwa kau adalah rumah yang selama ini aku cari? Padahal sejak awal, kau bahkan tak benar-benar membuka pintu. Kau hanya menggenggamku sebentar, lalu melepasku tepat saat aku mulai percaya bahwa luka-lukaku aman dalam dekapmu. Jika memang bukan aku yang kau mau, mengapa kau tatap mataku dengan sorot yang menyimpan ruang, seolah aku adalah sesuatu yang layak ditunggu? Kau rangkul hatiku hanya untuk kau biarkan tumbuh di ladang yang tak pernah kau siram. Harapan yang kutanam jadi ilusi yang menghancurkan, seperti berlari di lorong gelap, mengejar cahaya yang ternyata hanya pantulan dari janji palsu. Seperti kata Jean-Paul Sartre, “Kita dikutuk untuk bebas” dan aku, dalam kebebasan mencintaimu, terjebak dalam pilihan yang tak pernah kau inginkan sejak awal.

Kau ajak aku melangkah melewati sepi, luka, dan gelap yang panjang. Aku bertahan, karena aku percaya, bersamamu segalanya akan sampai di ujung yang bahagia. Tapi ternyata, aku hanya bagian dari rencanamu yang sementara sebuah jembatan untuk menuju dia yang kau benar-benar inginkan. Terlalu banyak malam kulalui dengan menyusun alasan untuk perubahan sikapmu, menenangkan diri bahwa mungkin kau hanya lelah, dan aku harus lebih sabar. Padahal kau sedang menghilang dalam diam, perlahan, tanpa pamit, tanpa penjelasan, tanpa peduli. Dan kini, aku sendiri, di titik yang dulu kau sebut sebagai “kita.” Mengapa kau beri aku tanda, seolah aku jawabannya? Mengapa kau biarkan aku menenun harapan dari benang yang bahkan tak pernah kuat sejak awal? Luka yang kau tinggalkan tak hanya dalam, tapi menghancurkan seluruh definisiku tentang cinta. Seperti kutipan Nietzsche, “Apa yang tidak membunuhku, membuatku lebih kuat,” tapi sebelum menjadi kuat, aku harus hancur terlebih dahulu dari keyakinan yang kau tanam, dan dari cinta yang tak pernah benar-benar kau beri.

Jika Cinta Adalah Ilusi, Mengapa Harapan Itu Ditanam?
Aku menoleh ke belakang, menatap jejak yang tak lagi utuh. Aku bertanya, bukan pada waktu, bukan pula pada dirimu, melainkan pada jiwaku sendiri: apa yang membuat manusia begitu mudah percaya? Barangkali karena cinta telah lama dijanjikan sebagai rumah, sehingga ketika angin menyapa lembut, kita mengira itu pintu yang terbuka. Dalam sunyi batin, aku diam di antara apa yang dulu kita sebut “kita”. Tapi apa arti “kita” jika hanya satu yang bertahan? Aku pernah percaya bahwa kau adalah jawaban dari doa-doa yang tak terucap, cahaya dari kekosongan malam-malam panjang. Padahal bisa jadi, aku hanya sedang membangun istana dari ilusi dan kau adalah arsitek tidakterlibatan. Kau genggam tanganku seolah ada tujuan, namun mungkin aku hanyalah persinggahan, bukan rumah. Aku mengulurkan seluruh perasaanku, menanggalkan perlindungan yang kujaga selama ini, lalu kau melepaskanku bukan karena badai, tapi karena niatmu memang tak pernah sampai.

Bukankah cinta adalah kesadaran tertinggi, sebagaimana Plato menyebut keindahan sejati tak hanya tampak oleh mata, tetapi juga diserap oleh jiwa? Namun dalam kisah kita, keindahan itu tak lebih dari bayangan yang rapuh refleksi dari janji yang tak pernah ingin ditepati. Seperti fatamorgana, ia tampak menjanjikan dari kejauhan, namun lenyap saat kudekati. Dan aku, dalam keyakinanku yang polos, hanyalah daun yang gugur bukan karena musim, tapi karena pohon telah bosan menahannya. Maka jika cinta hanyalah ilusi, mengapa kau tanam harapan di tanah hatiku?

Aku, Kau, dan Ruang Kosong Bernama Harapan?
Mengapa kau tatap mataku seolah menyimpan ruang untukku, jika sebenarnya di hatimu tak pernah ada tempat yang benar-benar ingin kudiami? Aku bukan penyair, tapi aku mengenal luka yang dalam luka yang perlahan mengubah definisiku tentang cinta, tentang diriku sendiri, dan tentang makna keberadaan. Aku belajar bahwa tak semua pelukan berarti perlindungan, dan tak semua rangkulan memiliki tujuan. Kau biarkan aku tumbuh di ladang harapan yang semu, menenun harapan dari benang yang rapuh, hanya untuk kemudian kau biarkan layu tanpa siraman perhatian. Kau ajak aku percaya, hanya untuk pergi saat aku mulai mengepakkan sayap menuju langit yang tak pernah kau doakan untukku. Dan kini aku berdiri sendiri, di ruang yang dulu bernama “kita”, memungut tawa yang telah berubah jadi gema kesepian.

Aku tak ingin menyalahkan, hanya ingin tahu: jika memang bukan aku yang kau tuju, mengapa kau ajak aku melangkah sejauh ini? Bukankah dalam setiap hubungan, kejujuran adalah bentuk tertinggi dari kasih, sebagaimana Socrates meyakini bahwa kebenaran hanya lahir dari kejujuran dan pertanyaan yang terus digali? Tapi kau hanya memberiku diam, dan diam itu terasa seperti pengingkaran yang disengaja. Aku tak hanya kehilangan cinta, tapi juga arah. Aku tak hanya patah, tapi tercerabut dari makna yang selama ini kujaga. Namun dari kehancuran ini, aku sadar: kehilangan bukanlah akhir, tetapi awal dari pemahaman paling jujur tentang diri. Dan kini, meski hatiku masih membawa jejakmu, aku tahu: cinta sejati tak pernah membuat seseorang bertanya apakah ia cukup. Cinta sejati datang bukan untuk menjadikan kita persinggahan, tapi sebagai tujuan.

Penulis : Adrianus Samsi (Sekretaris Jenderal PMKRI Bogor)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!