LAYANG-LAYANG
Kejahatan adalah kekurangan kebaikan daripada substansi yang independen, kata filsuf Agustinus dari Hippo. Begitulah kalimat yang bersemayam di langit-langit pikiran Albert malam ini. Setelah beranjak dari tempat nongkrong bersama teman-teman komunitasnya di Cafe di Cafe Monolog— Tempatini jadi ruang diskusi mereka. Perbincangan yang tak tersistematis, tak ada alur cerita seperti dongeng sebelum tidur, cerita yang lompat-lompat dan membingungkan. Antrean panjang orang-orang menanti pesanannya. Lagu-lagu Hindia beriringan menemani perenungan di tengah suara tertawa bersahut-sahutan di sebelah meja mereka. Albert tetap dalam kondisi bertanya, jika memang kejahatan adalah kekurangan pengetahuan, bagaimana bisa orang-orang pintar yang katanya cerdas di pemerintahan negeri ini tetap korupsi dan mementingkan pribadi dan kelompoknya. Masalah ketidakadilan muncul dari kebijakan yang salah atau kasus pedofilia, kekerasan terhadap anak dan perempuan serta pemerkosaan dilakukan orang yang pintar dan terdidik. Apakah semua ini akibat kekurangan pengetahuan? Apakah gelap dan cahaya adalah substansi yang berbeda?.
Perbincangan dilanjutkan meski jawaban dari teman-temannya tak memuaskan. Tiba-tiba serangan pemikiran pragmatis menggodanya,
“untuk apa dipikirkan pertanyaan-pertanyaan ini, toh besok matahari tetap bersinar dari Timur dan saat sore terbenam kembali di Barat. Aku akan tetap mengantar ibu ke pasar untuk berjualan saat subuh, setelah itu bersiap ke kampus menjalankan tugas sebagai mahasiswa dan ikut kegiatan organisasi kampus. begitulah rutinitasku selama 2 tahun ini, pikir Albert.”
Albert menjalani rutinitas ini tanpa disadari lambat laun membuatnya jenuh. Saat Albert diajak teman-teman kelasnya makan siang di kantin kampus. Albert membaca sebuah tulisan berlatar gambar seseorang di dinding kantin kampus, “Hidup yang tidak dipikirkan tidak layak dijalani”. Seperti kilat menyambarnya di siang bolong. Dia berhenti sejenak menghadap tulisan itu membiarkan teman-temannya pergi memilih meja makan. Lebih dekat Albert melihat tulisan itu dan mulai mencari kata-kata itu di google. Muncul di beranda handphone sosok dari Abad kuno, salah satu filsuf besar di Athena, namanya Socrates.
Setelah makan siang, Albert pamit terlebih dahulu beranjak ke salah satu taman di sudut Barat kampus. Albert mulai membaca file pdf tentang Socrates di handphone yang telah diunduh sembari memaikai headset di telinganya agar tidak terganggu suara lain dari luar. Segelas kopi Liong dan rokok garpit ketengan yang telah dibeli di warung belakang kampus tadi, ia nikmati sebagai stimulus pikiran. Kadang-kadang ia mengamati tukang bangunan yang sedang mengangkat puing-puing bangunan, mahasiswa yang memarkir kendaraan menutup jalan, Ipuw yang lewat depannya sambil kepala tertunduk mencari botol bekas tanpa ada beban. Rombongan mahasiswa yang berlarian karena khawatir telat kuliah. Hampir setiap hari Albert menyaksikannya, tak ada hal yang baru.
Proses belajar mengajar yang terjadi di kelas hampir tidak menimbulkan daya tarik. Bagi Albert, kelas seperti fashion show. Dosen seperti pemuka agama yang berbicara soal moral berpakaian. Debat hanya terjadi jika ada lomba debat. PR/Tugas sebagai jalan tengah tanpa ada proses tanya jawab di kelas antara mahasiswa dengan dosen. Mahasiswa segan dengan dosen, sedangkan dosen enggan dengan mahasiswanya sendiri. Sebuah budaya dan peradaban baru tumbuh di ruang kelas.
Dalam periode ketidakpastian dan keraguan, Albert justru banyak menghabiskan waktunya dengan teman di komunitas Komunitas filsafat jalanan yang dibentuk sejak tahun 2018 baik jam kuliah ataupun selesai kuliah. Meski kadang perbincangan di komunitas tidak selalu dipahami oleh Albert, kadang pertanyaan tidak selalu ada jawaban, bahkan pertanyaan yang diajukan bisa melahirkan pertanyaan baru. Hal seperti itu tidak dialami Albert di ruang kelas. Situasi keterasingan di kelas, antara keinginannya untuk bercakap-cakap tentang materi kuliah dan dosen yang enggan bercakap-cakap atau sebaliknya. Tegangan-tegangan dari peradaban baru ini tak berkesudahan. Albert berpikir justru banyak ilmu pengetahuan yang didapat di luar kelas baik dalam diskusi-diskusi atau di komunitas yang ia ikuti.
Peradaban baru, rutinitas di atas, pengalaman keterasingan terakumulasi mencapai titik tertinggi perasaan absurd Albert sampai pada sebuah momen yang mengurai perlahan-lahan dalam refleksinya. Modernitas yang terang benderang diikuti dengan perasaan yang mencari tersandera dalam keheningan. Albert hanyut dalam refleksinya tanpa peduli sekitarnya. Suara langkah kaki orang yang lalu lalang di depannya, bunyi gesekan kayu bangunan dan knalpot racing milik mahasiswa di parkiran kian sunyi. Albert mendapati dirinya terjebak dalam lamunan, muncul kembali pertanyaan yang terbenam dalam alam bawah sadarnya.
Albert mengambil pena dan buku harian dari dalam tasnya lalu menulis:
“Rasa putus asa pasti sangat nyata bagi aku ketika, setelah memutuskan hubungan dengan ide ataupun keyakinan lamaku tetapi masih tidak dapat melihat kebenaran terhadap ide baru, aku memutuskan untuk menahan persetujuan sampai beberapa kepastian tampak bagiku. Satu-satunya yang membuat aku yakin bahwa aku akan seperti aku yakini bahwa aku ada dan hidup, dan keinginan aku adalah milik aku yang tidak dapat disangkal seperti keberadaan dan kehidupan aku. Oleh karena itu, kemauan aku dapat diperhitungkan kepada aku, dan akulah yang bertanggung jawab atas pilihan aku.
Terhadap tesis filsuf Agustinus di awal mengenai “Kejahatan adalah kekurangan kebaikan daripada substansi yang independen”. Albert melanjutkan tulisannya, gagasan tersebut berbeda dengan keyakinannya yang lama. Dualisme antara kebaikan dan keburukan terpisah begitu pun antara keadilan dari ketidakadilan yang sudah dianut sebelumnya. Mana yang lebih logis? Albert menyeruput kopi dalam-dalam. Ide Agustinus membentuk ide-idenya tentang non-substansialitas kejahatan. Kejahatan bukan suatu substansi yang berbeda dari Kebaikan. Kejahatan merupakan ketiadaan kebaikan. Tentang tanggung jawab manusia yang berupaya melakukan kebaikan demi lepas dari kejahatan. Aku perlu sadari agar supaya terhindar dari paradigma dogmatis karena mungkin saja hanya karena arogansi diriku ingin berkuasa atas apapun di dunia ini. Satu-satunya yang dapat aku yakini saat ini adalah akal budi yang menuntun penyelidikan tiada akhir untuk keluar dari jeratan dogmatisme. Konsekuensi dari dogmatisme adalah akhir dari pintu pengetahuan. Tiadanya inovasi ide-ide. Sedangkan gagasan memiliki sayap.
Albert mengakhiri tulisannya dengan sebuah metafora “menangkap layang-layang”. Albert terinspirasi dari pengalamannya melihat anak-anak kecil sedang bermain layangan di lapangan. Albert lanjut menulis, layaknya layang-layang, tak ada rumus resmi bagaimana caranya menangkap layang-layang. Imajinasi tumbuh dan ada kenikmatan anak kecil menangkap layang-layang meskipun anak tersebut tidak bisa dapat menangkapnya. Tapi anak-anak itu berlari sambil tertawa.
Bogor, 13 Juli 2025
Penulis : Okto Nahak
