Gereja yang Sunyi dan Gembala yang Sibuk: Saat Mahasiswa Menjadi Domba Terlantar

0
WhatsApp-Image-2025-08-04-at-19.59.45_6f92603a

Gereja sering menyebut dirinya sebagai “rumah bagi semua”. Namun, apa artinya rumah jika terasa dingin, kaku, dan hanya terbuka untuk urusan liturgi semata? Bagi banyak mahasiswa Katolik di Bogor, gereja kini lebih mirip museum keheningan daripada tempat bertumbuh dalam iman. Mereka hadir, tetapi merasa tak terlihat. Mereka rindu bimbingan, tetapi hanya mendapat diam.

Di tengah kerapuhan masa muda, mahasiswa justru dibiarkan berjalan sendiri. Pastor mahasiswa, yang seharusnya menjadi gembala, lebih sering tampil layaknya pejabat institusi: hadir di rapat, sibuk menyusun laporan, dan hilang saat dibutuhkan. Mereka terlihat di altar, namun tak pernah hadir di ruang pergulatan mahasiswa. Mereka memberi khotbah, namun lupa mendengar suara hati umat muda.

Pastor pendamping kini lebih menyerupai menara pengawas: tinggi, dingin, dan jauh dari kehidupan nyata mahasiswa. Ia tidak turun ke ladang iman yang kering dan retak. Ia tidak menyentuh luka, tidak menyapa yang rindu, tidak memeluk yang hancur. Gaya elitis yang dipertahankan hanya membangun tembok eksklusivitas, bukan jembatan kepedulian.

Sungguh ironis, ketika mahasiswa ingin menggunakan fasilitas gereja untuk menghidupkan iman, mereka malah dipersulit. Izin rumit, biaya tak masuk akal, bahkan dicurigai seperti orang asing. Gereja, yang seharusnya menjadi rumah, kini lebih menyerupai hotel berbayar. Mereka yang seharusnya disebut anak kandung iman, justru diperlakukan seperti tamu tak diundang.

Tak ada pembinaan yang menyentuh. Tak ada pendampingan yang sungguh hadir. Yang ada hanyalah rutinitas liturgi yang kering, tak bermakna. Sementara itu, mahasiswa yang ingin tumbuh justru seperti domba tanpa gembala. Tersesat di padang sunyi, berharap pada suara yang tak pernah datang.

Ini bukan hanya soal absennya perhatian, tapi matinya nurani pastoral. Pastor mahasiswa gagal menjadi jembatan antara gereja dan realitas anak muda. Ia tidak mendengar jeritan jiwa, tidak membuka ruang diskusi, tidak membawa keresahan mahasiswa ke altar. Ia sibuk menjaga struktur, padahal isinya telah lama kosong.

Gambaran ini seperti kapal besar yang kaptennya sibuk di ruang kendali, sementara badai menghantam dek bawah kapal. Awak kapal dalam hal ini para mahasiswa dibiarkan terombang-ambing, kehilangan arah, dan perlahan putus harapan. Jika kapal itu bernama gereja, maka kapal ini sedang berjalan tanpa kompas hati.

Lalu muncul pertanyaan tajam: untuk apa ada pastor pendamping mahasiswa jika kehadirannya hanya simbolik? Untuk apa pelayanan yang hanya hidup di atas kertas, tetapi mati dalam tindakan? Lebih baik gereja jujur jika memang tak mampu mendampingi umat muda, bubarkan saja struktur yang hanya menyisakan kehampaan.

Gereja tidak butuh gembala yang senang berdiri di mimbar dan bicara indah, tetapi tuli terhadap jeritan umatnya. Gereja butuh gembala yang rela turun ke lembah gelap, berjalan di antara domba, dan menggendong yang pincang. Seorang pendamping yang benar-benar hadir, bukan hanya terlihat. Seorang pemimpin yang mengerti, bukan hanya memberi perintah. Seorang gembala yang menyalakan kembali hangatnya rumah iman, bukan mempertebal pagar eksklusivitas.

Kini saatnya gereja membuka mata. Mahasiswa bukan beban, mereka adalah masa depan. Dan  Jika suara mahasiswa tak didengar, jangan heran jika yang tersisa nanti hanya gema kesepian di bangku-bangku kosong dan gereja sendiri yang menggali lubang untuk kehilangan generasi penerusnya sendiri.
Jika pastor sibuk membangun menara status, jangan salahkan domba yang memilih pergi mencari padang lain yang memberi makan dan pelukan.
Dan jika gereja terus membungkam keresahan dengan liturgi megah, maka Tuhan pun bisa saja diam  sebab kasih-Nya bukan milik selebrasi, tetapi hadir dalam kedekatan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!