“Yang Dihapus” dan “Yang Dianggap Mati”: St. Christopher dan Filsafat
St. Christopher “Yang Dihapus” Bermula pada tanggal 4 Desember 1963 Paus Paulus VI menandatangani dan mengesahkan dokumen Sacrosanctum Concilium. Tahun 1969, melanjutkan keputusan konstitusi dokumen Sacrosanctum Concilium, dilakukan reformasi kalender liturgi dengan salah satu tujuannya memurnikan liturgi dari elemen yang kurang historis dan menghindari inflasi liturgi (Calendar Overload) sehingga tetap menjaga fokus pada misteri pokok Kristus. Salah satu santo yang dikeluarkan dari Kalender Liturgi Umum (General Roman Calendar) adalah St. Christopher.
Dikeluarkannya nama St. Christopher dari General Roman Calendar tidak membuatnya hilang atau terputus dari Gereja. Devosinya masih tetap hidup terutama bagi Gereja yang didedikasikan untuknya, bagi para pelancong yang memohon keselamatan dalam perjalanan, bahkan sampai saat ini pun masih banyak umat Katolik yang menggunakan St. Christopher sebagai santo pelindung atau teladan hidupnya. Meski dihapus dari kalender resmi, devosi St. Christopher tetap hidup dalam Sensus Fidelium
Filsafat “Yang Dianggap Mati”
Belakangan ini narasi mengenai “kematian filsafat” cukup ramai diperbincangkan di media sosial. Beberapa alasannya adalah bahwa jurusan filsafat sudah tidak relevan, terpututusnya filsafat dengan ilmu-ilmu terapan lainnya, dan para akademisi filsafat seperti hidup dalam menara gadingnya saja.
Filsafat mati bukan karena kehabisan gagasan atau sudah tidak relevan, karena jika kita melihat ke Eropa justru filsafat memiliki relevansi yang cukup baik dan adanya daya serap pasar bagi lulusan jurusan ini. Jauh berbeda dengan negara ini yang masih gugup dengan sains dan buta terhadap filsafat. Apalagi di kota ini yang tidak memiliki jurusan filsafat di kampusnya, dan saya cukup pesimis jika filsafat masuk ke dalam mata kuliah di tiap disiplin ilmu terapan. Untuk saat ini saya setuju bahwa filsafat akan kehilangan maknanya ketika ia melupakan Bios Praktikos, dan memilih berkaca dalam ruang seminar yang kosong.
St. Christopher dan Filsafat
Tersingkirnya St. Christopher dari Altar dan filsafat dari ruang akademis menjadikannya begitu asing, seperti legenda dan mitos yang digeser ke pinggir sejarah. Namun, di luar batas institusi, keduanya justru menemukan napasnya kembali dalam hidup umat. Tidak di kalender resmi, bukan di ruang kelas, tapi di jalanan, di obrolan warung kopi, dan di pundak mereka yang memikul beban sehari-hari.
Mereka menjadi simbol bagi orang-orang yang namanya tak tercatat, tetapi terus berjalan membawa iman dan kegelisahan berpikir. Apa yang dianggap mati oleh otoritas, seringkali justru hidup di pundak mereka yang namanya tak tercatat dan jumlahnya tak terhitung
Gereja dan Akademik
Institusi, baik gereja maupun akademi, seringkali terlalu fokus menjaga “Kemurnian” formalitas. Altar dan podium dijaga dengan cermat, seolah-olah di sanalah pusat kehidupan iman dan pengetahuan. Mereka lupa bahwa hidup tidak selalu terjadi di atas panggung seremonial. Sementara mereka mengunci makna dalam buku-buku resmi dan rubrik liturgi, umat dan murid berjalan di lorong-lorong hidup yang jauh lebih dinamis.
Mereka lupa tentang Lex Orandi, Lex Credendi. Apa yang dihidupi umat dalam keseharian sering kali lebih jujur daripada apa yang tertulis di lembaran peraturan. Filsafat dan devosi rakyat menjadi korban dari obsesi institusi akan legalitas dan keakademisan; korban dari kegagalan membaca realitas.
Namun, institusi bukanlah musuh. Mereka adalah kapal besar yang tetap dibutuhkan. Hanya saja, kesadaran harus ditegakkan: hidup tidak selalu tunduk kepada kertas liturgi maupun silabus kampus. Keduanya harus kembali belajar mendengar dari jalanan, dari ruang-ruang kecil yang diabaikan.
Kebangkitan di Arus Bawah
Maka jangan heran jika devosi kepada St. Christopher hari ini lebih hidup di dasbor mobil daripada di altar katedral. Doa perlindungan dalam perjalanan ditempelkan di kaca spion, atau dikalungkan di leher para sopir. Begitu pula filsafat; ia tidak tumbuh di ruang seminar hampa, melainkan di keresahan buruh yang menanyakan keadilan dari upah hasil keringatnya, di ibu-ibu pasar yang menawar harga sembari memikirkan biaya sekolah anaknya, di mahasiswa yang gelisah memikirkan masa depan di tengah ketidakpastian kerja, bahkan di obrolan warung kopi yang acak namun penuh intuisi tajam tentang ketidakadilan sosial.
Di arus bawah, makna-makna kembali menemukan dagingnya. Bukan di dalam catatan kaki jurnal ilmiah, tetapi dalam peluh dan tanya yang dilontarkan tanpa gelar. Di situlah Aletheia hidup dengan liar, bebas dari kemasan yang disusun rapi oleh institusi.
Maka hari ini, 25 Juli, Kita merayakan St. Christopher yang dihapus dari kalender, namun tak pernah dihapus dari perjalanan umat. Kita juga merayakan kematian filsafat, agar ia hidup kembali di pundak-pundak yang tak dikenal sejarah.
Dan menulis ini, bagi saya, adalah sebuah Parrhesia.
Semoga kita memiliki daya dan upaya lebih dalam memahami Caritas in Veritate.
Penulis : Christo Mona
