Perempuan dalam Kepemimpinan: Mengubah Paradigma dan Mendorong Kesetaraan Gender.
Perempuan telah lama dianggap sebagai sosok yang lebih cocok untuk peran domestik daripada kepemimpinan publik, namun realitas sejarah dan kontribusi perempuan membuktikan sebaliknya. Dalam era modern ini, di mana kesetaraan gender menjadi agenda global, penting untuk mengakui bahwa perempuan tidak hanya mampu menjadi pemimpin, tetapi juga sering kali membawa perspektif unik yang memperkaya dunia kepemimpinan. Sesuai topik “Perempuan dalam Kepemimpinan: Mengubah Paradigma dan Mendorong Kesetaraan Gender”, bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana perempuan telah mematahkan stereotip lama, didukung oleh wawasan dari para ahli perempuan yang telah membentuk pemikiran feminis dan kepemimpinan. Melalui kutipan-kutipan inspiratif dari tokoh-tokoh seperti Gloria Steinem, Michelle Obama, dan Malala Yousafzai, esai ini akan menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan bukanlah anomali, melainkan kekuatan yang mampu mendorong perubahan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi perempuan dalam dunia kepemimpinan adalah stereotip gender yang telah mendarah daging dalam masyarakat. Banyak yang percaya bahwa perempuan kurang kompeten dalam pengambilan keputusan strategis atau kurang tegas dalam menghadapi konflik, padahal bukti empiris menunjukkan sebaliknya. Gloria Steinem, seorang aktivis feminis terkemuka, pernah menyatakan, “The truth will set you free, but first it will piss you off,” yang menggambarkan bagaimana perempuan pemimpin sering kali harus menghadapi resistensi dan ketidakadilan untuk mencapai posisi mereka. Steinem, melalui tulisan-tulisannya seperti dalam buku “Outrageous Acts and Everyday Rebellions,” menekankan bahwa perempuan telah lama dikondisikan untuk menerima peran subordinat, namun dengan keberanian dan kesadaran, mereka dapat mengubah narasi tersebut. Dalam konteks kepemimpinan, Steinem menginspirasi generasi perempuan untuk tidak takut pada kontroversi, karena itulah jalan menuju kebebasan dan kesetaraan. Hal ini terlihat dalam karier perempuan seperti Angela Merkel, yang memimpin Jerman selama 16 tahun, membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan dapat stabil dan efektif dalam skala global.
Michelle Obama, sebagai mantan Ibu Negara Amerika Serikat, juga memberikan wawasan mendalam tentang kepemimpinan perempuan melalui pengalamannya. Dalam pidato-pidatonya, ia sering menekankan pentingnya empati dan ketahanan, yang merupakan kekuatan unik perempuan. Obama pernah berkata, “When they go low, we go high,” yang bukan hanya slogan, tetapi juga strategi kepemimpinan yang menolak untuk terjebak dalam permainan kotor lawan. Dalam bukunya “Becoming,” ia menceritakan perjalanan hidupnya dari seorang gadis biasa menjadi figur publik yang memengaruhi jutaan orang, menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan melibatkan pembangunan karakter yang kuat dan kemampuan untuk menginspirasi orang lain. Obama menyoroti bagaimana perempuan pemimpin sering kali harus menavigasi hambatan tambahan seperti bias gender, namun dengan pendekatan yang tinggi moral, mereka dapat mencapai dampak yang lebih besar. Kontribusinya dalam kampanye kesehatan dan pendidikan anak-anak menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tentang pelayanan dan perubahan sosial.
Malala Yousafzai, pemenang Nobel Perdamaian termuda, adalah contoh nyata bagaimana perempuan muda dapat menjadi pemimpin global meskipun menghadapi ancaman ekstrem. Pada usia 17 tahun, ia menyampaikan pidato di PBB yang menggemparkan dunia, di mana ia berkata, “One child, one teacher, one book, one pen can change the world.” Kutipan ini mencerminkan visi kepemimpinan Malala yang berfokus pada pendidikan sebagai alat untuk memberdayakan perempuan dan masyarakat. Dalam autobiografinya “I Am Malala,” ia menceritakan bagaimana ia bertahan dari serangan Taliban karena keyakinannya pada hak pendidikan perempuan, yang kemudian membuatnya menjadi simbol perlawanan dan harapan. Malala menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan sering kali lahir dari pengalaman pribadi yang sulit, dan dengan keberanian, mereka dapat mendorong agenda global seperti kesetaraan gender dan pendidikan universal. Pengaruhnya melalui Malala Fund telah membantu jutaan gadis di seluruh dunia, membuktikan bahwa perempuan pemimpin dapat mengubah dunia melalui aksi nyata.
Selain itu, para ahli perempuan lainnya seperti Hillary Clinton dan Indira Gandhi telah memberikan kontribusi signifikan dalam bidang politik dan diplomasi. Clinton, dalam bukunya “What Happened,” mengakui tantangan yang ia hadapi sebagai kandidat presiden pertama perempuan di AS, namun ia menegaskan bahwa “Human rights are women’s rights and women’s rights are human rights.” Pernyataan ini menekankan bahwa kepemimpinan perempuan tidak terpisah dari isu-isu kemanusiaan yang lebih luas, dan perempuan pemimpin sering kali lebih peka terhadap masalah seperti kekerasan gender dan ketidaksetaraan. Indira Gandhi, Perdana Menteri India pertama dan satu-satunya perempuan, pernah berkata, “You must learn to be still in the midst of activity and to be vibrantly alive in repose,” yang menggambarkan keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan dalam kepemimpinan. Gandhi memimpin India melalui krisis ekonomi dan perang, menunjukkan bahwa perempuan dapat menunjukkan ketegasan dan visi strategis yang diperlukan dalam posisi tinggi.
Namun, untuk benar-benar mengubah paradigma, diperlukan upaya kolektif untuk menghilangkan hambatan struktural seperti bias dalam rekrutmen dan kurangnya dukungan keluarga. Para ahli seperti Virginia Woolf, dalam esainya “A Room of One’s Own,” menekankan bahwa perempuan membutuhkan ruang dan sumber daya independen untuk berkembang, termasuk dalam kepemimpinan. Woolf berkata, “A woman must have money and a room of her own if she is to write fiction,” yang secara metaforis berlaku untuk semua bidang, termasuk politik dan bisnis. Tanpa akses ke pendidikan dan ekonomi, potensi kepemimpinan perempuan akan terbatas. Di era digital saat ini, perempuan seperti Oprah Winfrey telah memanfaatkan platform media untuk memimpin gerakan empowermen, dengan kata-katanya, “The biggest adventure you can take is to live the life of your dreams,” yang mendorong perempuan untuk mengambil risiko dan mengejar ambisi dari pada perempuan.
Oleh sebab itu, saya secara pribadi, sebagai seorang yang peduli terhadap kemajuan dan pemberdayaan perempuan, mengajak semua perempuan hebat di Papua, Indonesia, bahkan di seluruh dunia, untuk bangkit dan memimpin serta bertanggung jawab dalam berbagai ruang yang sudah semestinya terbuka di depan kita. Mari kita bersama-sama mengambil peran aktif dalam bidang-bidang seperti politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sosial, di mana kesempatan untuk berkontribusi telah lama menanti. Perempuan memiliki potensi luar biasa yang sering kali belum sepenuhnya dimanfaatkan, dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kekuatan, kreativitas, serta kepemimpinan kita dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan berkelanjutan.
Sehingga, tanggung jawab yang datang bersama kepemimpinan ini bukanlah beban, melainkan kesempatan untuk berkontribusi. Dalam ruang-ruang seperti parlemen, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, atau bahkan di tingkat keluarga dan komunitas lokal, perempuan dapat menjadi agen perubahan. Bayangkan jika lebih banyak perempuan Papua yang terlibat dalam politik daerah, memastikan kebijakan yang mendukung hak asasi manusia, pendidikan berkualitas, dan perlindungan lingkungan. Di Indonesia secara keseluruhan, perempuan telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam bidang seperti kesehatan, di mana mereka memimpin program-program vaksinasi dan penanggulangan pandemi, atau dalam ekonomi, di mana usaha kecil menengah yang dipimpin perempuan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan nasional.
Penulis : Elisabet Tebai(ketua PMKRI Komisarit Sukabumi)
