Apa Makna Mundur dalam Kepemimpinan Gereja Hari Ini?
Pengunduran diri seorang uskup kerap menghadirkan keganjilan tertentu. Keganjilan itu muncul bukan karena peristiwanya luar biasa, melainkan karena umat jarang sungguh belajar membacanya dengan tenang. Imajinasi banyak orang tentang seorang uskup menempatkannya sebagai figur stabil, selalu tahu ke mana harus melangkah, selalu mampu memikul beban, selalu berdiri tegak ketika yang lain goyah. Perubahan terjadi ketika seorang uskup memilih untuk mundur. Reaksi yang muncul lebih sering berupa kegelisahan daripada permenungan.
Peristiwa pengunduran diri Mgr. Paskalis Bruno Syukur sebagai Uskup Bogor menghadirkan situasi semacam itu. Ragam tafsir segera beredar seolah keheningan mesti segera diisi. Makna sering justru bekerja di ruang hening. Peristiwa penting tidak selalu menuntut penjelasan rinci. Peristiwa semacam itu mengajak orang membaca dengan lebih pelan.
Tulisan ini tidak bermaksud mengorek alasan personal atau menilai benar-salah keputusan tersebut. Posisi penulis berdiri sebagai umat sekaligus kader PMKRI yang dibentuk dalam semangat Pro Ecclesia et Patria. Semangat itu memandang cinta kepada Gereja bukan secara romantis dan defensif, melainkan secara dewasa, jujur, serta bertanggung jawab. Kesetiaan kepada Gereja dipahami sebagai latihan menahan diri dari penghakiman dan memberi ruang bagi keheningan.
Keheningan dalam Kata-Kata Seorang Gembala
Pernyataan Mgr. Paskalis Bruno Syukur sebelum mengundurkan diri tidak disampaikan dengan nada pembelaan. Pemberitaan Dio-TV, 15 Januari 2026, mencatat kutipan Rasul Paulus yang ia sampaikan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Kutipan itu penting bukan karena kekuatan retorikanya, melainkan karena cara hidup dimaknai sebagai penyerahan, bukan pembenaran diri.
Laporan yang sama memuat pengakuan iman terhadap tangan Tuhan yang bekerja di balik setiap peristiwa. Ketaatan kepada Takhta Suci ditegaskan sebagai bagian dari janji imamat yang dihidupi. Uraian tersebut tidak membuka detail persoalan. Ruang spekulasi justru ditutup. Bobot moral hadir melalui sikap berbicara secukupnya.
Pemberitaan Strategi.id, 16 Januari 2026, memuat penegasan bahwa pengunduran diri tidak dimaknai sebagai kekalahan manusiawi. Kasih terhadap persatuan Gereja ditempatkan sebagai horizon utama. Diri pribadi tidak dijadikan pusat persoalan. Kehidupan Gereja dipandang lebih luas daripada kepentingan personal.
Beban Kepemimpinan di Zaman Terbuka
Kepemimpinan Gereja kerap tampak tenang dari luar. Struktur berjalan. Liturgi dirayakan. Kata-kata disampaikan dengan rapi. Realitas di balik ketertiban itu menyimpan beban yang tidak kecil. Ekspektasi umat, sorotan publik, budaya media sosial, tanggung jawab moral, serta dinamika internal sering tidak hadir di ruang terbuka.
Zaman keterbukaan menempatkan pemimpin rohani bukan hanya sebagai gembala, tetapi juga sebagai figur publik. Setiap sikap mudah ditafsir, setiap diam mudah dicurigai. Tekanan semacam ini membuat bertahan sering dipuji sebagai kebajikan. Sikap mundur lebih cepat dibaca sebagai kelemahan. Pemaknaan tersebut tidak selalu adil.
Keberanian tidak hanya berwujud dalam keteguhan untuk tetap berdiri. Keberanian juga hadir dalam pengakuan akan batas diri. Kepemimpinan yang jujur tidak memaksakan beban melampaui kesanggupan batin. Tanggung jawab justru dijaga melalui kesadaran akan kerapuhan manusiawi.
Membaca Ulang Makna “Mundur”
Kehidupan sosial membebani kata mundur dengan makna negatif. Kekalahan, kegagalan, atau ketidakmampuan segera dilekatkan. Cara berpikir semacam itu terbawa masuk ke ruang iman. Setiap pengunduran diri kemudian dicurigai seolah ada sesuatu yang harus dibongkar.
Logika Gereja tidak dibangun di atas kompetisi. Gereja tidak hidup dari siapa yang paling lama bertahan atau paling kuat tampil. Kesetiaan dan pelayanan menjadi dasar utama. Kerangka ini membuka ruang pemahaman bahwa mundur tidak selalu berarti meninggalkan panggilan. Pilihan tersebut dapat menjadi bentuk lain dari kesetiaan. Kejujuran ditempatkan di atas citra. Tanggung jawab diletakkan di atas gengsi.
Penegasan tentang kasih terhadap persatuan Gereja, sebagaimana diberitakan Strategi.id, 16 Januari 2026, memberi kunci pembacaan. Keputusan personal ditempatkan dalam bingkai kehidupan bersama Gereja. Logika pembelaan diri tidak dijadikan pusat narasi.
Figur, Harapan, dan Kerapuhan
Kehidupan bergereja menyimpan kecenderungan menempatkan pemimpin rohani terlalu jauh dari kemanusiaannya sendiri. Harapan umat sering menginginkan gembala selalu kuat, selalu tenang, selalu sanggup. Kebutuhan akan rasa aman melahirkan gambaran pemimpin tanpa retak.
Realitas Gereja sejak awal merupakan persekutuan manusia rapuh. Pengakuan atas batas diri bukan aib. Kejujuran justru menjadi bentuk kemanusiaan paling dasar. Pemimpin dan umat belajar berdiri dalam kerapuhan yang disadari, bukan ditutup-tutupi.
Belajar Dewasa sebagai Umat
Peristiwa pengunduran diri ini berbicara tentang kedewasaan umat. Iman tidak bertumpu sepenuhnya pada figur tertentu. Pertumbuhan terjadi ketika Gereja dipahami sebagai perjalanan bersama manusia terbatas.
Kesibukan menilai sering mengaburkan kesempatan untuk merenung. Gereja yang sehat bukan Gereja yang menutup kerapuhan. Gereja yang sehat berani mengakuinya dengan jujur dan tenang.
Makna terdalam peristiwa ini tidak berhenti pada siapa yang mundur. Makna itu bergerak pada cara memahami kejujuran dalam kepemimpinan, dalam iman, serta dalam diri sendiri. Pemahaman diri jarang hadir sebagai mata kuliah wajib. Proses itu tumbuh melalui keberanian membaca hidup dengan lebih pelan dan jujur.
Penulis : Frigy De Quirino
