Surat Terbuka Untuk Gereja Mahasiswa

Salom
salam damai sejahtera.

Berkah Dalem untuk kita semua, semoga kita senantiasa diberi rahmat kasih oleh Tuhan Allah Bapa di Surga. Amin
Mgr.Paskalis Bruno Syukur,OFM selaku Uskup Bogor, Romo Yohanes Driyanto sebagai Romo Kapelan, Romo Paulus Piter selaku Pastor Moderator Komisi Kemahasiswaan Keuskupan Bogor, Mas Bayu selaku perwakilan dari komisi Kemahasiswaan dan Bapak Mertua yang selama ini mendampingi Mahasiswa katolik di Keuskupan Bogor, ketua-ketua Komunitas mahasiswa Katolik se-Keuskupan Bogor, dan teman-teman Mahasiswa Katolik pada umumnya yang sangat saya cintai. Pada hari ini senin,19 februari 2018, bertempat di Ruang Rapat Uskup Lantai 2 Aula Pusat Pastoral keuskupan Bogor pukul 14.00-15.30 wib.

Saya perwakilan dari PMKRI Cabang Bogor beserta beberapa Alumni PMKRI Cabang Bogor di temani Mas Bayu dari komisi Kemahasiswaan menemui yang Mulia Monsinyur Paskalis guna memberikan informasi sekaligus menawarkan langkah-langkah sinergitas PMKRI dan Hirarki Gereja guna berupaya mewujudkan harapan-harapn perhimpunan kedepannya. Beberapa point yang kami sampaikan kepada Monsinyur adalah terkait upaya menghidupkan lebih lagi komunitas-komunitas dan organisasi-organisasi mahasiswa Katolik yang berada dibawah naungan Keuskupan Bogor salah satu bagiannya adalah PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) yang merupakan organisasi Kepemudaan (OKP) Katolik yang berfungsi sebagai organisasi Pembinaan dan Perjuangan Mahasiswa Katolik (juga bukan Katolik) yang berasaskan Pancasila, dijiwai Kekatolikan dan disemangati kemahasiswaan.

Saya berniat untuk secara singkat dengan sabar dan jelas menjelaskan bagaimana sifat Independensi dan Interdependesi PMKRI Cabang Bogor santo Joseph a Cupertino terkait dengan Hubunganya dengan Pihak luar agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan multitafsir. Bahwa secara konstitusional, PMKRI mempunyai otonomi dalam mengurus rumah tangganya sendiri. PMKRI tidak terikat atau mengikatkan diri pada organisasi Kemasyarakatan, organisasi Politik tertentu bahkan dalam hirarki Gereja. Namun tetap aktif berinteraksi dengan Lingkungan Kemasyarakatannya dalam rangka mewujudkan cita-cita perhimpunan. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dalam berbagai unsur dalam Masyarakat, karena keberadaannya merupakan bagian integral dari Masyarakat Indonesia. Sedangkan Interdependensi PMKRI merupakan sisi lain dari keberadaan organisasi ini, karena usaha kearah pencapaian cita-cita perhimpunan juga dipengaruhi lingkungan Masyarakatnya dalam berbagai bentuk hubungan dan keterlibatan gerakan kemasyarakatan PMKRI, seperti pendekatan Program, dialog partisipatif, konsultatif, serta bentuk-bentuk lain sepanjang tidak bertentangan dengan konstitusi Perhimpunan.

Dalam dinamika organisasi, sejak keberadaan PMKRI Cabang Bogor tahun 1951 sampai saat ini mengalami pasang surut eksistensinya. Sejarah memang seperti itu, sama seperti manusia selalu memiliki pengalaman-pengalaman setiap waktu ke waktu senantiasa menyelimuti Kehidupan setiap manusia, karena yang sempurna hanyalah Dia Sang Pencipta. Kami menyadari betul bahwa sikap militansi mantan Aktifis PMKRI dan Mahasiswa Katolik di Bogor pada umumnya mengalami penurunan yang sangat berarti bahkan saat ini cenderung tidak terlihat, yang saya maksudkan dengan militansi disini adalah seperti semangat melayani dan mengabdi kepada Gereja dan Bangsa serta berani dan siap terlibat mengisi ruang-ruang Sosial politik Masyarakat. Bapa Uskup mgr.Paskalis beberapa kali dengan tegas mendorong Umatnya untuk senantiasa berupaya menyeimbangkan eksistensi umat didalam tatanan kehidupan sosial politik yang beragaman ini.

Melalui media ini, Saya juga sedikit memberikan intervensi pemikiran kepada Mahasiswa katolik di Keuskupan Bogor ini yang menjadi _agen of change_ dan berPredikat Mahasiswa sekaligus Katolik-nya. Predikat Mahasiswa artinya harus melaksanakan Tri dharma Perguruan tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat), saya harap tidak salah satu saja atau salah dua yang ditonjolkan dan Tri Dharma Perguruan Tinggi ini tidak hanya di jalankan oleh Dosen (Pendidik) melainkan justru Mahasiswa lah yang menjadi Motor Penggeraknya. Dan Katolik artinya adalah universal, terbuka bagi sesamanya. Tidak perlu ada pengkotak kotakan terlebih merasa kecil. Karena itu hanya perasaanmu saja dan satu hal lagi yaitu tidak perlu hanya beretorika didalam kampus saja, _Go and see_ Lingkungan luar kampus. Kamu akan menemukan hal lain yang tidak kamu dapatkan dalam ruangan kelas yang berAC.

Pada akhirnya Saya mengajak Rekan-rekan pengurus, Anggota Biasa, Anggota Penyatu Saatnya PMKRI Cabang Bogor santo Joseph a Cupertino, Romo Moderator dan Rekan-rekan Komunitas Katolik se-Keuskupan Bogor untuk bangkit lagi dengan berupaya berjalan bersama guna menunjukan kembali eksistensi kita sebagai Mahasiswa yang Katolik melalui proses pembinaan di PMKRI guna menjawab tantangan-tantangan yang ada menjadi kader-kader Katolik yang militan itu. Tentunya kami tidak bosan-bosan selalu membisikan harapan kami kepada Bapa Uskup Mgr.Paskalis Bruno Syukur, OFM untuk memberikan berkat bagi kami menjalani Roda Organisasi kapanpun dan dimanapun.
Inilah bingkisan kado sederhana kami untuk Gereja dan Tanah Air.

Scientia et Caritas,
Pro Ecclesia et Patria!!!

Aula Marga Putra,19-02-2018

 

Ttd
Oktavianus Nahak Tetik
(Mandataris RUAC/Formatur Tunggal/Ketua
Presidium PMKRI Cabang Bogor)
De – das forum für studenten student / studentin gesucht für internetshop / homepagepflege studentenseite.

2 Comments

Leave a Reply to Nicolous Yuliano Ridwan Cancel reply

Your email address will not be published.


*