Bima Arya: Jadi Pemimpin Perlu Ikhlas dan Pengabdian

Sumber:
http://www.beritasatu.com/politik/295890-bima-arya-jadi-pemimpin-perlu-ikhlas-dan-pengabdian.html

Bima Arya: Jadi Pemimpin Perlu Ikhlas dan Pengabdian

Bogor – Walikota Bogor Bima Arya menegaskan tidak mudah menjadi pemimpin yang baik sehingga bisa memecahkan berbagai persoalan dalam masyarakat. Seorang kepala daerah harus ikhlas dalam menjalankan tugasnya dan tetap mengutamakan kepentingan umum.

“Saya baru memimpin Bogor 15 bulan tetapi kok rasanya sudah seperti 15 tahun. Makanya saya juga heran kenapa banyak artis yang mau jadi kepala daerah. Jadi pemimpin itu tidak mudah,” kata Bima Arya ketika didaulat bicara dalam temu kangen alumi PMKRI Cabang Bogor di Bogor, Minggu (2/8).

Acara sederhana tersebut menghadirkan sejumlah alumni PMKRI Bogor dari kalangan profesional, pebisnis dan akademisi, seperti Titus Sarijanto, Fajar Indrajaya, Sri Setyati Haryadi, Ngaloken Ginting, Erik Nursahramdani, Cyrilus Kerong, Hanny Wijaya, dan Stefanus Farok. Hadir juga tokoh alumni PMKRI Cosmas Batubara dan pastor moderator PMKRI Bogor Yohanes Driyanto.

Bima menegaskan, sekalipun hanya memimpin Bogor, persoalan yang dihadapi tidak sedikit. Bogor dengan segala keterbatasannya terus mengalami peningkatan jumlah penduduk setiap tahun. Apalagi, setiap akhir pekan sekitar 300.000 warga membanjiri kota Bogor untuk wisata dan acara keluarga.

Untuk itu, kata Bima, dia sangat berharap bisa belajar dari pengalaman para senior seperti Cosmas Batubara yang menjadi pemimpin di usia muda dan bisa mengelola kewenangan yang dimiliki untuk kepentingan masyarakat.

“Saya harus banyak belajar dari para senior seperti Pak Cosmas dan teman-teman seangkatannya. Sejauh ini yang saya dapatkan bahwa jadi pemimpin itu harus ikhlas dan penuh pengabdian,” kata jebolan dari Universitas Parahyangan, Bandung ini.

Dikatakan, kedekatan dengan masyarakat juga sangat diperlukan agar bisa memahami persoalan dalam masyarakat. Ini juga yang menyebabkan jadwal dia dalam setiap akhir pekan lebih padat dibandingkan pada hari kerja.

Cosmas yang juga mantan Menteri Tenaga Kerja mengatakan persoalan kependudukan di setiap wilayah membutuhkan pendekatan yang tepat sehingga tidak menjadi persoalan baru. Tantangan setiap kota di Indonesia terkait dengan persoalan kependudukan harus diatasi secara komprehensif.

“Dalam 20-30 tahun ke depan bonus demografi Indonesia harus dioptimalkan. Jika salah strategi justru hanya menjadi persoalan baru. Apalagi, 70% masyarakat Indonesia akan tinggal di perkotaan,” kata Cosmas.

Ketua Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI Bogor Rita Simanjuntak mengatakan persoalan kota Bogor harus diatasi dengan perencanaan yang tepat, dukungan aturan yang jelas, konsistensi pelaksanaan aturan, dan ketegasan pemimpin.

“Banyak persoalan yang muncul justru karena minimnya penegakkan hukum dan pemimpin yang tidak konsisten,” katanya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*